Photobucket

ShareThis

Sabtu, 24 Maret 2012

Bila Kulit (Terutama Perut) Gatal Saat Hamil


Salah satu keluhan yang hampir dialami oleh semua ibu hamil adalah rasa gatal di perut. Meski kondisi ini tidak berbahaya, tapi bisa membuat ibu hamil merasa tidak nyaman.

Umumnya gatal yang timbul di perut dan kadang payudara ini tidak berbahaya, karenanya ibu hamil tidak membutuhkan perawatan khusus. Namun sekitar 20 persen dari ibu hamil membutuhkan bantuan khusus tergantung dari derajat rasa gatal yang timbul.

Penyebab utama dari kondisi ini adalah adanya perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuh serta peregangan kulit terutama di bagian atas perut, seperti dikutip dari Babyandpregnancy, Sabtu (18/2/2012).

Sekitar dua pertiga ibu hamil kadang mendapati tangan dan kakinya yang merah dan gatal yang diyakini akibat peningkatan estrogen. Namun rasa gatal yang muncul ini akan hilang dengan cepat setelah ibu tersebut melahirkan.

Umumnya kondisi ini tidak membutuhkan obat untuk mengatasinya. Tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa gatal yang muncul di perut.

Biasanya rasa gatal diperburuk oleh cuaca yang panas. Jika berada dalam lingkungan yang hangat atau panas, maka gunakan pakaian yang longgar dan terbuat dari katun sehingga bisa menyerap keringat.

Usahakan hindari keluar rumah saat udara panas, terutama ketika tengah hari. Jika memungkinkan bawalah kipas yang bisa membantu tubuh tetap dingin, serta membawa tisu basah. Selain itu hindari mandi dengan menggunakan air hangat karena bisa menambah gatal, lalu gunakan sabun ber pH rendah seperti sabun bayi.

Hal terpenting yang harus dipahami ibu hamil adalah jangan menggaruk bagian yang gatal dengan menggunakan kuku, karena bisa memicu luka dan juga iritasi. Jika muncul gatal, ibu hamil cukup mengusap-usap bagian perut.

Namun sekitar 1 persen ibu hamil bisa mengembangkan kondisi yang ditandai gatal, benjolan merah dan ruam seperti di atas perutnya atau disebut pruritic urticarial papules and plaques of pregnancy (PUPPP).

PUPPP biasanya dimulai pada trimester ketiga dan lebih umum dialami oleh perempuan yang mengandung bayi kembar atau bayi pertama. Rasa gatal awalnya akan muncul di perut atau sekitar stretch mark (jika ada) dan bisa menyebar ke paha, bokong dan lengan. Kondisi ini tidak berbahaya bagi janin maupun ibu, tapi gatal yang muncul akan sangat mengganggu.

Dokter biasanya akan meresepkan salep topikal untuk mengatasi kondisi tersebut, atau bisa juga direkomendasikan pemberian antihistamin. PUPPP ini akan hilang dalam waktu beberapa hari setelah melahirkan.



Jumat, 23 Maret 2012

ENDOMETRIOSIS Sering ditandai adanya Nyeri Haid

Definisi : 
Yaitu Susunan mirip endometrium, yang menampilkan  perubahan klinis seperti endometrium normal kavum uteri, yang dapat tumbuh di hampir semua bagian tubuh.


Gejala :
Dismenorea setelah beberapa tahun tanpa nyeri menstruasi.
Nyeri (bukan tergantung pada luas tidaknya endometriosis, tapi tergantung pada organ yang terlibat). Nyeri hebat berhubungan dengan endometriosis yang infiltrating.
Gejala tergantung pada organ yang terlibat : obstipasi atau nyeri pinggang.

Pemeriksaan
Uterus biasanya fixed dan retroversi.
Ovarium pada umumnya membesar.
Terdapat nodul nodul pada lig uterosakralais dan CD pada 1/3 kasus.
Konfirmasi dengan laparoskopi (endometriosis ringan dapat diobati dengan kontarasepsi oral dosis rendah)
Kista coklat merupakan rongga yang berisi darah pada endometrioma.
Bentuk endometriosis bermacam macam : lesi merah, hitam, biru atau putih tanpa pigmentasi.


Diagnosis
Hendaknya Mengarah pada Diagnosa Endometriosis : pada wanita dengan keluhan infertilitas, terutama bila disertai dengan (Nyeri Haid) dismenorea  dan Nyeri saat Berhubungan Seks (dispareuni)




Etiologi : 
Endometriosis peritoneal berasal dari endometrium ovarium. Disebabkan oleh adanya aliran retrograde jar endometrium melalui tuba fallopii menuju cavum abdominal. Hal ini didukung oleh  adanya :
1. Dengan laparaskopi nampak adanya aliran darah menstruasi melalui fimbria.

2. Endometrium banyak ditemukan di tempat tempat tertentu pelvis (tersering pada ovarium, CD anterior dan posterior dan lig utero sakralis).

3. Jar endometrium dapat tumbuh dalam kultur jaringan dan juga setelah penyuntikan pada kulit abdominal.

4. Endometriosis dapat tumbuh saat serviks kera ditransposi sehingga darah menstruasi masuk ke cav peritoneal.

5. Insiden endometriosis lebih tinggi pada wanita yang aliran menstruasinya mengalami hambatan.

6. Resiko endometriosis meningkat pada wanita dengan siklus yang pendek tapi periode haid panjang, sehingga kesempatan implantasi endometrial ektopik lebih besar.


Adanya endometriosis yang jauh dari pelvis disebabkan oleh :
1. Transport fragmen endometrial melalui pembuluh darah dan limfe, sehingga endometriosis dapat terjadi pada hampir seluruh organ tubuh. (mis : endometriosis paru, bisa memberi gejala pneumotoraks, hemato toraks dan hemoptisis saat mens).

2. Beberapa tahun setelah operasi uterus dan ovarium disebabkan oleh :
Terjadi transplantasi selama proses pembedahan.
Aktivasi dari penyakit residual.
Transformasi metaplasi jaringan lain.
Aktivasi jaringan sisa embrionik.

Teori lain penyebab endometriosis : transformasi epitel coeloemik menjadi jaringan bertipe endometrium oleh adanya rangsangan yang tidak spesifik.
Hal ini didukung oleh :
1. Endometriosis terjadi pada usia remaja hanya beberapa tahun setelah menstruasi.
2. Endometriosis juga terjadi pada usia prepubertal.
3. Endometriosis juga terjadi pada wanita yang belum pernah menstruasi.
4. Kadang endometriosis terdapat pada ibu jari, lutut (sesuai dengan embriogenesisnya)
5. Walaupun biasanya berhubungan dengan kadar estrogen yang tinggi, kadang endometriosis juga terjadi pada laki-laki.

Karena tidak semua refluks aliran menstruasi menjadi endometriosis, diduga endometriosis juga dipengaruhi oleh faktor imunologik dan genetik.
Fakta : wanita dengan endometriosis didapatkan :
a. Menurunnya imunitas seluler terhadap jar endoometrium.
b. Menurunnya bebrbagai respon imun.

Prevalensi
3 – 10 % populasi umum wanita usia reproduktif.
25 – 35 % pada wanita infertil (terutama infertilitas sekunder)



Endometriosis dan Infertilitas.
Bila endometriosis mengenai ovarium dan menimbulkan perlekatan maka akan mempengaruhi motolitas tuba dan pengambilan telur maka akn timbul infertilitas. Namun endometriosis yang minimal pada cav peritoneal juga dapat menyebabkan infertilitas, mekanisme :
a. Oleh adanya dispareuni sekunder.
b. Kadar prostaglandin (prostanoid) pada endometriosis meningkat (prostaglandin mempengaruhi motilitas tuba, folikulogenesis dan fungsi korpus luteum).
c. Aktivitas makrofag peritoneal meningkat pada endometriosis, sehingga fagositosis terhadap sperma meningkat (interleukin-1 toksis untuk embrio) juga menimbulkan reaksi inflamasi.
d. Adanya endometriosis mengganggu pertumbuhan folikel, menyebabkan disfungsi ovulasi dan gagalnya pertumbuhan embryo.


Terapi pembedahan endometriosis
Pembedahan dilakukan pada endometriosis yang mengadakan perlekatan atau > 2 Cm.
Suksesnya pembedahan dalam mengatsi infertilitas tergantung dari keparahan endometriosis. (60% pada derajat sedang dan 35 % pada derajat berat).
sampai sekarang belum ada bukti bahwa pembedahan pad endometriosis ringan akan memperbaiki fertilitas.

Angka kejadian kehamilan tertinggi terjadi pada satu tahun pertama setelah pembedahan konservatif, setelah lebih dari 2 tahun maka kemungkinan hamil akan kecil.
Angka rekurensi endometriosis setelah pembedahan biasanya < 20% namun bila hal ini terjadi maka pembedahan kedua memiliki angka keberhasilan yang terbatas untuk mengatasi infertilitas

Istilah pembedahan konservatif : dengan mempertahankan fungsi reproduksi (saat mengangkat endometrioma, sedapat mungkin ditinggalkan jaringan ovarium yang normal). Dalam hal ini angka rekurensi tinggi ok progresif. Berbeda halnya dengan pembedahan radikal (terdiri dari histerektomi dan BSO), kadang ovarium yang tidak terganggu ditinggalkan. Hal ini dapat menyebakan rekurensi namu kecil.

Terapi hormonal endometriosis
Terapi hormonal baik untuk mengatasi dismenorea, dispareuni dan nyeri pelvik, namun bukan untuk mengatasi infertilitas. Hormon estrogen memacu pertumbuhan endometriosis, sehingga pada menopause endometriosis akan mengalami regresi.
Terapi hormonal bertujuan untuk menghambat silklus stimulasi dan perdarahan, untuk itu diberikan :
1. Dietilstelbestrol (DES)
2. Preparat androgen (metiltestosteron)
3. Kontrasepsi oral kombinasi 



Sumber : William Obstetri, Sarwono, dan Jurnal pada saat artikel ini diterbitkan, 
mohon konfirmasi dengan Literatur terbaru dan Pendapat Dokter pada saat Pemeriksaan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...